Opini: Ukhuwah Islamiyah: (Tafsir QS. Ali ‘Imrān/03: 103)

Konsep Ukhuwah: Bagian 2 dari 5 tulisan
Dr. Machmud Suyuti,M.Ag , merupakan Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar

muimakassar.org – Makassar. Perintah untuk berpegang pada tali Allah dalam konteks wattashimu bihablillah ditemukan dalam QS. Ali Imrān/3: 103 yang mengandung arti pentingnya persatuan di internal umat Islam. Persatuan yang dimaksud berarti bergabungnya satu ikatan dan kumpulan suatu komunitas dalam berbagai unsur menjadi satu kesatuan.

Arti kata “satu” sendiri berarti utuh atau tidak terpecah belah. Dengan demikian, persatuan mengandung makna bersatunya berbagai corak yang berbeda-beda menjadi kesatuan yang utuh dan serasi, termasuk persatuan umat Islam dalam suatu komunitas karena kesamaan akidah adalah bagian inti firman Allah dalam QS. al-Hujurat ayat 10, yakni اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ … (sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…)

Dalam konteks syariah, persatuan memiliki makna yang sangat penting karena persatuan melambangkan cita-cita bersama seluruh umat Islam untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, damai, bahagia dunia dan akhirat.

Pentingnya persatuan dan kesatuan itu, disebutkan dalam firman Allah pada Surat Ali ‘Imran Ayat 103, yakni

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Terjemahnya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Interpretasi dari awal ayat yakni وَٱعْتَصِمُوا۟/wattashimu” sebagai fiil amri, yakni kalimat perintah dalam perspektif ilmu ushul fikih setiap perintah wajib dilaksanakan. Dari sini kemudian dipahami adanya kewajiban bagi umat Islam untuk bersatu dalam mengamalkan ajaran Allah untuk konteks بِحَبْلِ ٱللَّهِ (bihablillah).

Upaya yang dapat dilakukan dengan mengamalkan nilai-nilai persatuan yang terkandung dalam al-Qur’an, khususnya pada klausa ayat Wattashimu Bihablillah tersebut adalah mengimplementasikan persatuan dan menghindari perpecahan.

Salah satu aktualisasi yang dapat dilakukan di tengah keberagaman internal umat Islam adalah dengan toleransi sesama muslim, menghargai perbedaan yang ada di kalangan umat Islam, dan gotong royong, dengan adanya beberapa aspek ini maka akan meningkatkan persatuan kita.

Persatuan dan kesatuan di antara umat Islam bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama. Aktualisasi nilai-nilai luhur al-Quran dan Pancasila dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika menjadi petunjuk yang menuntun langkah kita khususnya sebangsa dan setanah air, sehingga tujuan dari firman Allah dalam QS. Ali Imran/3: 103 tersebut adalah untuk memahami nilai-nilai persatuan.

Yang dimaksud dengan lafadz “بِحَبْلِ ٱللَّهِ ” (pada tali Allah) pada ayat tersebut memiliki makna janji Allah. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali Imran/03: 112 yakni:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ …

Terjemahnya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia

Ayat tersebut oleh Allah memerintahkan mereka agar bersama jamaah (kesatuan) serta melarang mereka untuk bercerai berai dan banyak hadis Nabi saw yang melarang adanya perpecahan kemudian perintah menjalin persatuan.

Hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Allah swt ridai kepada kalian dalam tiga perkara dan murka kepada kalian dalam tiga perkara. Allah rida kepada kalian bila kalian menyembah-Nya dan kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, bila kamu sekalian berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai berai, dan bila kalian saling menasihati dengan orang yang dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Dan Allah murka kepada kalian dalam tiga perkara, yaitu qil dan qal (banyak bicara atau berdebat), banyak bertanya dan menyia-nyiakan (menghambur-hamburkan) harta”

Seperti yang disebutkan dalam banyak hadis, jika mereka bergabung, mereka telah diberikan jaminan bahwa mereka akan dilindungi dari kesalahan ketika mereka mencapai kesepakatan. Mereka juga khawatir akan terjadi konflik dan perselisihan. Hal itu benar-benar terjadi pada populasi ini, yang terbagi menjadi 73 kelompok. Dari semua golongan itu, satu yang masuk ke Surga dan selamat dari Neraka adalah mereka yang mengikuti jalan Rasulullah saw dan para sahabatnya yang senantiasa bersatu dalam berbagai urusan.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya agar kamu, yakni kita sekalian mendapat petunjuk sebagaimana disebutkan dalam akhir QS. Ali ‘Imran/03: 103 yakni, كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk) yang pada hakikat nya ayat ini memberikan tiga pesan utama:

Pertama, berpegang teguh pada tali Allah merujuk pada ajaran Islam yang mencakup al-Quran, sunnah Rasulullah saw, dan nilai-nilai universal Islam.

Kedua, berpegang pada tali Allah berarti mengikuti pedoman-Nya dengan konsisten dan penuh keimanan. Ini adalah fondasi utama ukhuwah Islamiah, karena hanya dengan bersandar pada pedoman Ilahi, umat dapat terhindar dari konflik dan perpecahan.

Ketiga, larangan perpecahan pada ayat tersebut dengan tegas melarang umat Islam berpecah-belah. Perpecahan adalah menjadi sumber kelemahan dan kehancuran umat, sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah Islam maupun peristiwa global saat ini.

Perselisihan yang didasari oleh ego, fanatisme golongan, atau isu duniawi menjadi ancaman nyata bagi ukhuwah Islamiah. Nikmat Persaudaraan oleh Allah swt mengingatkan umat Islam untuk mensyukuri nikmat persaudaraan yang telah diberikan-Nya.

Relevansi konsep Wattashimu Bihablillah untuk konteks kekinian tetap relevan dalam menghadapi tantangan persatuan umat Islam di era modern. Beberapa tantangan tersebut antara lain bahwa perpecahan berbasis aliran teologis, mazhab fikih, atau afiliasi politik sering kali memecah belah umat.

Karena itu, strategi membangun ukhuwah Islamiah berdasarkan pesan QS. Ali Imran/03: 103 adalah adanya beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk membangun ukhuwah tersebut, yakni:

Pertama, menguatkan pemahaman keislaman yang moderat dan menekankan nilai-nilai moderasi (wasathiyah) dan toleransi harus diperkuat.

Kedua, umat Islam perlu memahami bahwa perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan perpecahan, tetapi justru menjadi kekayaan intelektual dalam Islam.

Ketiga, meningkatkan dialog dan kolaborasi forum dialog lintas kelompok muslim harus terus digalakkan untuk membangun rasa saling pengertian. Selain itu, kolaborasi dalam kegiatan sosial, seperti pengentasan kemiskinan dan pendidikan, dapat menjadi sarana untuk mempererat ukhuwah Islamiah.

Mengimplementasikan nilai ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan. misalnya, melalui perilaku saling tolong-menolong, menghindari prasangka buruk (suuzhan), dan memperkuat rasa empati terhadap sesama muslim.

Dengan demikian maka ukhuwah Islamiah bukan saja memiliki pengaruh terhadap Islam tetapi juga dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara, persatuan dan kesatuan umat Islam sebagai warga negara adalah sebuah hal yang mutlak.

Persatuan dan kesatuan ini sudah pasti merupakan dorongan faktor kesetiaan akan kedamaian yang sudah pernah dilakukan oleh Nabi saw saat pertama kali hijrah ke Madinah dengan tujuan yang ingin dicapai bersama, yaitu kemakmuran.

Tanpa adanya ukhuwah Islamiah maka sulit rasanya untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan apalagi di tengah masyarakat muncul banyaknya pihak yang tidak menyadari akan bahaya pecah belahnya suatu bangsa dan negara. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq. (*)

Exit mobile version