Kamis, Januari 29, 2026

Memahami Tawasul: Jalan Menuju Allah Melalui Sanad yang Tak Terputus

Dr. Machmud Suyuti, M.Ag
Dr. Machmud Suyuti, M.Ag
(Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar)
Bidah: Bagian-5 dari 10 Tulisan. TAWASUL-2. Dr. Machmud Suyuti, M.Ag Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar dan Katib Am Jamiyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy

Tawasul bukan sesuatu yang bidah. Pendapat sebagian orang bahwa tawasul bisa membawa kesyirikan karena mengambil perantara untuk sampai kepada Allah swt termasuk pendapat yang tidak berdasar.

Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka mursyid tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy menganalogikan bahwa masyarakat biasa sebagai orang awam jika meminta sesuatu kepada seorang presiden, dia meminta untuk dihubungkan dengan orang yang dekat dengan menteri, kepada ajudan menteri misalnya, dan menteri itulah nanti yang menghubungkan dengan presiden.

Puang Makka lebih lanjut merinci sebuah ilustrasi bahwa orang awam misalnya karena sesuatu keinginan kepada seorang pejabat namun khawatir tidak terwujud, maka orang tersebut berusaha mencari wasilah dengan cara mendekati orang-orang yang dekat dengan pejabat tersebut.

Melalui orang dekatnya itulah bertawasul dan mejadikan wasilah untuk agar keinginannya terkabulkan dan terwujud. Begitulah perumpamaan seseorang yang bermohon sesuatu kepada Allah swt., dia harus lebih awal bermohon dengan perantaraan kepada Nabi saw., para kekasih-Nya, kepada para aulia, kepada orang-orang saleh.

Begitu pulalah para murid-murid dan ahli tarekat bertawasul kepada guru-gurunya yang dengan silsilah sanadnya itu menyambungkan untuk sampai kepada Nabi saw dan juga sebagai wujud keabsahan birokrasi Ilahiyah.

Seseorang tidak mungkin bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang tinggal di tempat yang jauh, tanpa berwasilah antara lain dengan menggunakan sarana telepon, sarana ini disebut wasilah. Apalagi jika hendak taqarrub, berhubungan dengan Allah swt yang sulit dijangkau oleh manusia, maka tidak ada jalan lain perlu diupayakan kecuali berwasilah.

Jadi tawasul atau dengan berwasilah kepada mursyid, masyaikh, yang memiliki silsilah sanad sampai kepada Nabi saw adalah suatu jalan, cara dan metode yang seharusnya ditempuh agar dapat takarub, ber-taqarrub mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan demikian, tawasul dalam dunia tarekat adalah sebuah keharusan.

Puang Makka menjelaskan bahwa wasilah adalah mengambil perantara dengan cara tawasul untuk takarub, yakni mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan kata lain, menjadikan suatu perantara sebagai penyambung untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Term wasilah yang derivasinya adalah wushūl dalam tarekat selalu digandengkan dengan wushūl ilallāh, sesuatu yang mengantar untuk sampai kepada Allah swt. atau sekurang-kurangnya untuk sampai taqarrub ilallāh, mendekat kan diri kepada Allah swt., dan untuk tujuan itu diperlukan mursyid sebagai pembimbing, menjadikan mursyid tersebut sebagai wasilah.

Puang Makka dalam berbagai penuturannya sering menyampaikan bahwa Nabi saw. sebagai habībullāh, kekasih Allah swt., namun dalam berbagai usahanya selalu berwasilah. Segala kejadian dan peristiwa yang dialami Nabi saw tidak luput dari usahanya untuk berwasilah, ketika Isrā’ mi’rāj misalnya sebelum wushūl ilallāh menjadikan Jibril a.s. sebagai wasilah.

Demikian sebaliknya dari Allah swt. menurunkan wahyu tidak serta merta langsung sampai kepada Nabi saw. kecuali dengan perantaraan Jibril a.s.

Sedangkan Nabi saw. sendiri untuk sampai kepada Allah swt. memerlukan wasilah lewat Malaikat Jibril as. Apalagi manusia selain Nabi saw maka tentulah berwasilah sebagaimana yang dicontohkan Nabi saw sangat penting untuk diikuti.

Bahkan Nabi saw dalam peristiwa Isrā’ mi’rāj, beberapa tahapan wasilah dilaluinya sekaligus menjadi silsilah sanad dari nabi-nabi sekaligus leluhurnya. Bertemu dengan Nabi Adam, Nuh as, di langit pertama, Nabi Yahya dan Isa as pada langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat demikian seterusnya sampai ke langit ketujuh bertemu dengan Nabi Musa dan perantaraan Jibril untuk wushūl ilallāh.

Dalam kaitan itulah, sangat tidak mungkin untuk wusūl (sampai) kepada Allah swt. tanpa mengikuti Nabi saw dan untuk sampai ke maqam tersebut tiada jalan kecuali berwasilah kepada guru mursyid yang membimbingnya. Syarat yang harus dilakukan untuk itu adalah seseorang mengikuti jalannya Nabi saw melewati rantai sanad seorang guru, mursyid.

Berwasilah kepada orang-orang saleh, waliyullah, para mursyid, masyaikh pada hakikatnya disebabkan mereka kekasih Allah swt. yang doa-doanya maqbūl, diterima oleh Allah swt. Di sinilah perlu dipahami bahwa berwasilah termasuk salah satu cara berdoa, memang harus ditujukan kepada Allah swt., bukan kepada selain-Nya, bukan kepada orang-orang saleh karena mereka ini hanya sebagai wasilah.

Sekiranya sasaran doanya kepada orang-orang saleh, tentu salah karena hal itu sebagai kemusyrikan. Jika yang bertawasul berkeyakinan bahwa yang dijadikan wasilah atau yang menjadi perantara itu berkuasa memberi manfaat dan menolak mudarat dengan kekuasaannya sendiri seperti Allah swt atau lebih rendah sedikit, maka dia telah menyekutukan Allah swt.

Berwasilah dalam dunia tarekat dianggap sebagai cara tawasul bil sanad, tawasul yang memiliki silsilah sanad, terjalin dan bersambungan antara orang yang bertawasul dengan guru-guru mereka, para mursyid, masyaikh hingga sampai kepada Nabi saw.

Tawasul seperti ini memiliki energi yang kuat karena mempunyai hubungan erat antara yang bertawasul dengan yang ditawasuli. Dengan demikian menurut Puang Makka bahwa bertawasul menjadikan travo wasilah sebagai channel, saluran atau frekuensi yang tidak terputus energi nya langsung sampai Nabi saw. dan kehadirat Allah swt.

Lebih lanjut Puang Makka menjelaskan bahwa jika dilihat dari sisi teknologi dapat diumpamakan wasilah memiliki definisi, yakni suatu channel dan frekuensi yang berupa media pengantar untuk men-sinkronkan kepada induk terminal stasion, yakni Nabi saw, untuk nantinya disampaikan kepada satelit pusat, yakni kepada Allah swt.

Demikianlah jika ingin tersambung dengan sesuatu maka wajib untuk mensinkronkan channel atau frekuensi, sehingga bisa diumpamakan ibarat televisi, walaupun tower pemancar TransTV ada di dekat rumah, tapi channelnya tidak dapat maka tidak ada hubungan sama sekali.

Begitu juga dalam hal connetting dengan Allah swt, walaupun dekat-Nya di urat leher manusia, tetapi tetap channel-Nya tidak ada hubungan karena ada hijab antara Allah swt dengan makhluk-Nya. Karena itu, maka tentu penting mencari channel untuk sampai membuka hijab tersebut agar terhubung dengan Allah swt., yakni wasilah mursyid, masyaikh yang sambung menyambung sampai kepada Nabi saw yang terhubung kepada Allah swt. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

__________________

Narasi tentang tawasul yang termaktub dalam tulisan ini sepenuhnya merujuk pada tausiah Puang Makka dalam buku berjudul Ajaran dan Tarekat Khalwatiyah dari Syekh Yusuf ke Puang Makka, Cet. II; Penerbit Darul Ahsan Makassar, 2025.

Dr. Machmud Suyuti, M.Ag
Dr. Machmud Suyuti, M.Ag
(Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles