Kamis, Januari 29, 2026

Ukhuwah Islamiah dan Wathaniyah Perspektif Hadis

Konsep Ukhuwah: Bagian-3 dari 5 Tulisan, Oleh Dr. Machmud Suyuti, M.Ag, Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar

Ukhuwah Islamiah dan Wathaniyah Perspektif Hadis (Telah Teks Piagam Madinah).

I. Pendahuluan

Ukhuwah dalam berbagai perspektif tidak terbatas pada persaudaraan seagama maupun senasab tetapi juga pada implementasi ukhuwah makhluqiah dan khalqiah.(kini) sangat disayangkan munculnya issu-issu yang mengoyak ukhuwah dengan beredarnya caci maki dan ujaran kebencian antar satu pribadi dan kelompok ke yang lain sesama makhluk Tuhan.

Sebagai antipoda, perlu dimunculkan hadis-hadis yang menekankan pentingnya menjauhi perpecahan, permusuhan, fitnah, saling membully karena yang demikian sangat mencedrai internalisasi nilai-nilai ukhuwah.

Nabi saw dalam berbagai hadisnya menekankan tentang urgennya untuk saling mahabbah penuh kasih sayang, memuliakan, menghormati saling membantu satu sama lain demi terinternalisasinya nilai-nilai ukhuwah.

Program utama Nabi saw saat hijrah ke Yatsrib-Madinah adalah mempersaudarakan kaum pribumi dan pendatang Asing, muslim dan non-muslim tanpa melihat perbedaan ras, suku dan bangsa menjadi prioritas. Untuk legalitasnya maka diterbitkan regulasi yang disebut dengan Piagam Madinah.

Interpretasi syarah hadis atas Piagam Madinah merumuskan empat nilai-nilai konsep ukhuwah yang perlu diinternalisasi sebagai berikut:

Pertama, ukhuwah Islamiah yakni persaudaran antara sesama muslim wattashimu bihablillah tanpa melihat paham, mazhab, kelompok atau semacam ormasnya untuk masa sekarang ini.

Kedua, ukhuwah wathaniah yakni persaudaraan sesama warga negara tanpa mengenal jenis kelamin-min zakarin wa unṡa, etnis-syu’uban, kelompok-qabail-nya agar saling mengenal-lita’arafu dan saling empati.

Ketiga ukhuwah basyariah yakni persaudaraan antara sesama umat manusia tanpa melihat agama, aliran dan kepercayaannya agar terbangun relasi komunitas sesama turunan Adam dan Hawa.

Keempat ukhuwah khalqiah yakni persaudaraan untuk semua makhluk, alam sekitar terkait hubungan manusia dengan hewan, tumbuhan, tanah, air, udara, api dan apa saja yang ada di seluruh isi jagad raya ini.

II. Hadis-hadis Ukhuwah

1. Ukhuwah Islamiah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ (متفق عليه)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarah Hadis (Fath al-Bāriy/5:97-98)

المسلم أخو المسلم هذه أخوة الا سلام يعني لا يظلمه فإن ظلم المسلم للْمسلم حرام ولايخذله أي لا يتركه مع من يؤذيه ولا فِيما يؤذيه بل ينصره ويدفع عنه … ومن كان فى حاجة أخيه كان الله فى حاجته ومن فرج عن مسلم كربة، فرج الله عنه كربة من كربات يوم القيامة ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة و ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا. وحق المسلم على المسلم ست أذا لقيته فسلم عليه وأذا دعاك فأ جبه وأذا استنصحكَ فانصح له وأذا عطس فحمد الله فسمته وأذا مرض فعده وأذا مات فاتبعه.

Ukhuwah Islamiah semata memandang manusia hanya karena kesamaan iman, disatukan kalimat Allah yang Maha Tinggi. Ini merupakan bentuk persaudaraan yang lebih kuat dari persaudaraan sedarah. Karena sekalipun sedarah jika sudah beda Allah maka putus sudah persaudaraan.

Hadis yang mensyarah:

حدثنا أبو بكرِ بن أبِي شيبة وأبو عامرٍ الأشعرِي قالا حدثنا عبد اللّه بن إدريس وأبو أسامة عن بريد عن أبي بردة عن أبي موسى قال قال رسول اللَّه صلم المؤمن للمؤمنِ كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه البخارى و مسلم)

Perspektif Piagam Madinah, ukhuwah Islamiah melampaui sekat geografis, melampaui kesukuan, batas-batas wilayah bahkan batas negara. Ukhuwah Islamiah tidak mengenal kasta, tidak memandang rupa, bukan warna kulit yang menjadikan mulia.

Teks Piagam Madinah tentang Ukhuwah Islamiah:

بسم الله الرحمن الرحيم، هذا كتاب من محمد النبي صلى الله عليه وسلم بين لمؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم إنهم أمة واحدة من دون الناس…

Hadis terkait:

حدثنا أبو الولِيد قال حدثنا شعبة قال أخبرني عبداللَّه بن عبداللَّه بنِ جبر قال سمعت أنسا عنِ النبي صلم قال آية الإِيمان حب الأنصار وآية النفاق بغض الأنصار (رواه البخارى)2.

Ukhuwah Wathaniah

قال إبن إسحاق : وحدثنى محمد بن جعفر بن الزبير، قال : لما قدموا على رسول الله صلم المدينة، فدخلوا عليه مسجد حين صلى العصر عليهم ثياب الحبرات جبب وأردية فى جمال. رجال بنى كعب قال: يقول بعض من رآهم من أصحاب رسول الله صلم يومئذ ما رأينا وفدا مثلهم وقد حانت صلاتهم فقاموا في مسجد رسول الله صلم يصلون، فقال رسول الله صلم دعوهم فصلوا إلى المشرق

Teks Piagam Madinah:

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهل بيته

Menyadari pentingnya merawat persaudaraan demi terciptanya bangsa yang damai dan sejahtera, maka perbedaan suku, ras, bahkan agama di Yatsrib tidak menjadi penghalang bagi Nabi saw untuk membangun sebuah negara yang bersatu dan berdaulat.

Nabi saw memiliki kesempatan dalam mempersatukan umat yang sempat terjebak dalam konflik saudara selama puluhan tahun. Dibangunlah ukhuwah Wathaniah inilah pada sebuah negara yang kemudian dikenal dengan Madinah.

Bangsa yang bersatu di tengah kemajemukan rakyatnya ini (di Madinah) mampu berdiri kokoh dengan semangat persaudaraan bangsa tanah airnya. Bagaimana kisahnya?

Aus dan Khazraj Sebelum Nabi saw dan umat Islam hijrah ke Madinah dan mendirikan negara baru di sana, terlebih dahulu Nabi saw membuat pribumi Yatsrib beriman. Dengan begitu, jika nanti sudah tiba saatnya hijrah, Muslim Makkah mendapat sambutan baik dari penduduk setempat.

Salah satu upaya yang Nabi saw lakukan adalah mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang terjebak dalam konflik saudara selama puluhan tahun. Hingga sekali waktu pada 620 M, enam orang dari suku Khazraj datang ke Makkah untuk menemui Rasulullah.

Kedatangan mereka karena mendengar kabar bahwa pada tahun ini akan diutus nabi akhir zaman di Makkah. Setelah berhasil menemui Nabi saw, mereka akhirnya menyatakan masuk Islam.

Selain karena percaya pada ajaran Nabi saw, harapan mereka Rasul bisa menyelesaikan konflik suku yang sudah cukup melelahkan (Lihat Safyur al-Rahman al-Mubarakfuri, Rahiqul Makhtum, 2013: 126-127).

Muslim dan Yahudi Madinah ternyata Yatsrib tidak saja terdiri dari rakyat yang multi suku, ras, dan budaya saja, tetapi juga umat agama lain yaitu kaum musyrik Yahudi. Hidup bertetangga antarumat beragama-belum lagi Yahudi menyimpan dendam terhadap umat Muslim-sangat mungkin terjadi konflik jika tidak ada tindakan dari negara.

Sebab itu, Nabi saw kemudian membuat perjanjian untuk mewanti-wanti hal itu dalam sebuah dokumen negara yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah. Di antara isi butir-butir perjanjian itu adalah agar kedua belah pihak Muslim dan Yahudi saling melindungi, menyatakan musuh bersama kepada siapa saja yang bermaksud menyerang Madinah, dan siapapun yang melanggar perjanjian ini berarti telah berbuat zalim.

Dari kisah Nabi saw membangun negara Madinah dapat diambil hikmah bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk menciptakan kerukunan, tetapi justru peluang untuk mewujudkan persatuan.

Perspektif NKRI, Indonesia merupakan bangsa yang besar yang terdiri dari berbagai agama, suku, adat-istiadat dan bahasa daerah yang masing-masing yang tetap dijaga kelestariannya. Disini juga warga pribumi dan non-pri diajarkan untuk saling hormat-menghormati, saling toleransi, gotong royong, ramah-tamah, dan itu menjadi bagian dari kepribadian bangsa kita melebur menjadi semboyan bangsa Indonesia yang tergambar pada lambang burung garuda yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Semua suku yang hidup di bawah langit Indonesia mengejawantahkan konsep persaudaraan yang dibingkai oleh nilai-nilai kebangsaan merupakan keniscayaan sejarah (min lawazim al-tarikh).

Warga Negara Indonesia memang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, pilihan partai politik dan bahkan agama. Kebhinnekaan ini harus tetap dijaga, di rawat dan dikelola dengan baik, agar keutuhan dan persatuan bangsa tetap terjaga.

Ukhuwah wathaniah yang diajarkan oleh Nabi saw, pada dasarnya telah terinternalisasi yang sempurna di negara kita, di sini diajarkan untuk mempunyai jiwa kepedulian sosial yakni saling merangkul, membantu dan menjaga seluruh warga negara agar keselamatan jiwa, kesehatan dan hartanya dapat dijaga serta kemakmuran dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

III. Penutup

Menjalin persaudaraan yang diistilahkan dalam perspektif hadis adalah ukhuwah, wajib diupayakan implementasinya dan tidak terbatas hanya dengan antar-sesama muslim maupun sesama warganegara, melainkan juga dengan sesama manusia atau makhluk lain, baik muslim maupun nonmuslim.

Selain ukhuwah Islamiyah, menjalin dan membangun ukhuwah wathaniah juga wajib dilakukan demi utuhnya sebuah negara bangsa. Karena itu, Nabi saw dalam berbagai hadisnya menekankan tentang urgennya untuk saling mahabbah penuh kasih sayang, memuliakan, menghormati saling membantu satu sama lain demi terinternalisasinya nilai-nilai ukhuwah wathaniah pada suatu masyarakat bangas dan negara.

Menyadari pentingnya merawat persaudaraan demi terciptanya bangsa yang damai dan sejahtera, maka perbedaan suku, ras, bahkan agama perspektif Piagam Madinah, maka di sejak Yatsrib tidak menjadi penghalang bagi Nabi saw untuk membangun sebuah negara yang bersatu dan berdaulat. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles