Kamis, Januari 29, 2026

Dari Seminar MUI Makassar : Masjid Hijau, Wujud Atasi Kerusakan Lingkungan

MUIMAKASSAR.ORG, Makassar — Konsep masjid hijau merupakan wujud nyata Islam Rahmatan Lil Alamin. Terwujudnya masjid hijau juga menjadi salah satu ikhtiar untuk mengantisipasi  kerusakan lingkungan yang ada di depan mata.

Pokok pikiran itu terungkap dalam Seminar Pengembangan Masjid Hijau dan Wisata Masjid yang digelar Komisi Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar  di Travellers Phinisi Hotel, Sabtu (27/9/2025). Seminar ini menggaungkan pesan untuk menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami ayat-ayat Alquran, dan di sisi lain pemahaman itu dipakai untuk menjaga lingkungan.

Seminar menghadirkan dua narasumber utama, Prof. Dr. HM Hamdar Arraiyyah dan Prof. Dr. Mustari Mustafa. Keduanya menyoroti peran penting masjid dalam merespons isu lingkungan sekaligus mengembangkan potensi wisata religi. Seratus peserta hadir dalam kegiatan ini, mulai dari pengurus masjid, akademisi, tokoh masyarakat, hingga organisasi keagamaan.  

Dalam presentasinya, Prof. Hamdar menekankan bahwa konsep masjid hijau merupakan wujud nyata Islam Rahmatan Lil Alamin. Ia mencontohkan Masjid Istiqlal di Jakarta yang telah memperoleh sertifikat green building, sebagai bukti bahwa rumah ibadah dapat sekaligus ramah lingkungan dan menjadi model bagi masjid lain di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa masjid hijau menuntut perhatian serius terhadap aspek lingkungan, mulai dari pencahayaan alami, sirkulasi udara, penghijauan dengan pepohonan, hingga pemanfaatan energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Menurutnya, hal-hal teknis tersebut bukan sekadar detail arsitektur, tetapi bagian dari tanggung jawab umat Islam dalam menjaga bumi.

“Masjid itu harus membangun hubungan timbal balik antara umat dan masjid. Apakah masjid itu sudah mengembangkan pendidikan? Masjid hijau itu bagian dari penerapan Islam rahmatan lil alamin. Institusi keagamaan Islam punya potensi besar untuk mempromosikan lingkungan. Masjid itu menjadi simbol kaum muslimin,” ujarnya.

Selain berbicara tentang aspek lingkungan, Prof. Hamdar juga menyinggung potensi masjid sebagai destinasi wisata religi. Menurutnya, daya tarik masjid tidak hanya lahir dari bangunan semata, melainkan juga dari nilai sejarah, suasana ibadah yang khusyuk, rutinitas kajian, hingga keberadaan makam tokoh bersejarah di sekitarnya.

Ia menyebutkan, khatib atau penceramah yang inspiratif, imam dengan suara merdu, serta dukungan fasilitas sekitar seperti wisata kuliner dan lembaga pendidikan juga mampu memperkuat daya tarik masjid. Sebagai contoh, ia menilai Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar sudah memenuhi syarat sebagai masjid hijau sekaligus wisata religi.

Lebih jauh, ia mencontohkan masjid di Cape Town, Afrika Selatan, yang punya keterikatan sejarah dengan Syaikh Yusuf Al-Makassari sebagai penyebar Islam pertama di sana. Ia juga menyinggung sejumlah masjid di Turki yang berhasil memadukan tata ruang, penghijauan, dan manajemen bangunan secara baik.

Sementara itu, Prof. Mustari Mustafa menyoroti aspek lain yang tak kalah penting, yakni pendidikan lingkungan. Menurutnya, masjid dapat menjadi ruang strategis untuk membentuk generasi yang kritis dan peduli terhadap isu alam.

“Membentuk generasi yang kritis pada kepedulian alam itu penting. Ada relasi interaktif antara manusia dan lingkungan sekitar. Masjid bisa menjadi ruang pendidikan untuk menanamkan kesadaran itu,” kata Prof. Mustari.

Ia menegaskan, pendidikan lingkungan yang terintegrasi dalam kegiatan masjid akan melahirkan masyarakat yang lebih peduli terhadap keberlanjutan hidup. Dengan begitu, masjid bukan hanya menjaga jamaahnya dalam aspek spiritual, tetapi juga membekali mereka dengan kesadaran ekologis yang bermanfaat bagi generasi mendatang.

Dua perspektif ini memperlihatkan bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar ruang ibadah. Masjid dapat menjadi pusat edukasi, sarana pelestarian lingkungan, dan destinasi wisata religi yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan budaya.

Melalui seminar ini, MUI Makassar berharap masjid-masjid di kota ini bisa bertransformasi menjadi ruang yang ramah lingkungan sekaligus mampu menghadirkan daya tarik wisata. Dengan jumlah masjid di Makassar yang mencapai ribuan, peluang untuk mengembangkan konsep masjid hijau sangat besar, asalkan didukung oleh kolaborasi berbagai pihak. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles