MUIMAKASSAR.ORG, MAKASSAR — Bagaimana jika sebuah kota dibangun bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan warganya, tetapi juga untuk merawat keberagaman? Pertanyaan itu menemukan jawabannya di Amman, Yordania, kota yang menjadi ruang belajar bagi Dr. H. M. Kafrawy Saenong, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Rappocini sekaligus Kepala Madrasah MI Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa.
Selama mengikuti forum internasional hasil kolaborasi Institut Leimena dan RIIFS pada 2–4 Agustus 2026, Kafrawy tidak hanya mengikuti diskusi akademik, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana sejarah, tata kota, dan kehidupan masyarakat Amman berpadu dalam merawat harmoni antarumat beragama.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Dr. Sandi Farhat dan Dr. Ismael Abder-Rahman Gil, yang mengulas pentingnya dialog perkotaan sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif. Namun, pembelajaran tidak berhenti di ruang seminar.
Para peserta diajak mengunjungi sejumlah simbol kehidupan lintas agama di Amman. Perjalanan dimulai dari Masjid Abu Darwish, salah satu ikon kota yang berdiri megah di atas perbukitan. Dari sana, rombongan melanjutkan kunjungan ke Gereja Armenia, Gereja Katolik Latin Misdar, hingga Jesuit Refugee Service, sebuah lembaga kemanusiaan yang mendampingi para pengungsi tanpa membedakan latar belakang agama maupun kebangsaan.
Di setiap tempat yang dikunjungi, para peserta menyaksikan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang dihidupkan melalui ruang-ruang perjumpaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kerja sama dalam bidang kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif yang memberi kesempatan kepada para peserta untuk saling bertukar pengalaman dan praktik baik dalam membangun masyarakat yang rukun. Semangat mutual learning menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai perspektif dari peserta yang berasal dari latar belakang budaya dan agama yang beragam.
Bagi Dr. Kafrawy Saenong, pengalaman di Amman menjadi bekal berharga untuk terus memperkuat semangat toleransi dan kerukunan sosial di Indonesia. Nilai-nilai yang dipelajari selama forum diharapkan dapat diimplementasikan mulai dari lingkungan terdekat, khususnya di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat persaudaraan, menjaga harmoni kehidupan berbangsa, dan menghadirkan wajah Islam yang damai serta rahmatan lil ‘alamin. (*)
