MUIMAKASSAR.ORG, MAKASSAR — Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Merawat Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah” di Hotel Almadera, Makassar, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta dari berbagai organisasi kemasyarakatan, pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, pengurus aliran tarekat, serta perwakilan majelis agama Hindu, Buddha, Katolik, Kristen, dan Konghucu.
FGD tersebut menghadirkan Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., dan Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar, Dr. Machmud Suyuti, M.Ag., sebagai narasumber. Diskusi dipandu Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Kota Makassar, Hasan Pinang, S.Ag., M.Fil.I., sebagai moderator.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Makassar, Muhammad Syarif, saat membuka kegiatan mengatakan bahwa ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah penting terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut dia, upaya merawat persaudaraan tersebut juga perlu diwujudkan melalui ketaatan kepada pemimpin serta kesediaan seluruh elemen agama untuk saling bertukar pikiran.

“Silakan para perwakilan agama bertukar pikiran untuk bersama-sama mewujudkan Kota Makassar sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” kata Syarif.
Sementara itu, Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag., yang mewakili Ketua MUI Kota Makassar, menekankan bahwa rasa persaudaraan harus tercermin dalam perilaku sosial dan kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan, berbagai tindakan yang merugikan masyarakat, seperti korupsi dan penimbunan bahan bakar minyak, tidak akan dilakukan apabila seseorang memiliki kesadaran persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

“Karena sesungguhnya kita adalah sama. Oleh karena itu, mari memperlakukan sesama sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri,” ujarnya.
Rahmi juga mengingatkan ajaran Islam bahwa kesempurnaan iman berkaitan erat dengan kemampuan seseorang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
“Mari berjalan menuju tujuan bersama, yaitu kedamaian, dengan tetap membawa identitas kita masing-masing,” katanya.
Ketua Panitia FGD, Nasruddin, mengatakan keterlibatan peserta dari berbagai organisasi, komunitas, aliran keagamaan, dan majelis agama menunjukkan semangat bersama untuk menjaga keharmonisan di Kota Makassar.
“Perbedaan adalah sebuah kekuatan. Kita berharap keberadaan saudara-saudara kita menjadi kekuatan bersama dalam membangun Kota Makassar yang harmonis,” kata Nasruddin.(*)
